bunga raflesia

cute boy

cowo cakep

cowo cakep
lagi mw ke curup neh

herdito yasinnata

herdito yasinnata
agroekoteknologi B

Minggu, 02 Mei 2010

laporan genetika hukum mendel I

Laporan Praktikum Genetika
Acara 2
Hukum Mendel I



Dicky Andika S
NPM : E1J009056
Shift : V. Kamis (12.00-14.00)
Kelompok : 2

LABORATORIUM AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2010

I.Pendahuluan
Dasar teori
Teori pertama tentang sistem pewarisan yang dapat diterima kebenarannya dikemukakan oleh Gregor Mendel pada tahun 1865 atau disebut hokum segregasi. Teori ini diajukan berdasarkan penelitian persilangan berbagai varietas kacang kapri (Pisum sativum). Dalam percobaannya Mendel memilih tanaman yang memiliki sifat biologi yang mudah diamati. Berbagai alasan dan keuntungan menggunakan tanaman kapri yaitu, (a) Tanaman kapri tidak hanya memiliki bunga yang menarik, tetapi juga memiliki mahkota yang tersusun sehingga melindungi bunga kapri terhadap fertilisasi oleh serbuk sari dari bunga yang lain. Hasilnya, tiap bunga menyerbuk sendiri secara alami; (b) Penyerbukan silang dapat dilakukan secara akurat dan bebas, dapat dipilih mana tetua jantan dan betina yang diinginkan; (c) Mendel dapat mengumpulkan benih dari tanaman yang disilangkan, kemudian menumbuhkannya dan mengamati karakteristik (sifat) keturunannya.
Hukum mendel Ipertama adalah perkawinan dua tetua yang mempunyai satu sifat beda (monohibrid). Setiap individu yang berkembang biak secaraseksual terbentuk dari peleburan dua gamet yang berasal dari induknya. Berdasarkan hipotesis mendel setiap sifat/karakter di tentukan oleh gen (sepasang alel). Hokum mendel pertama berlaku waktu gametogenesis F1. F1 itu memiliki genotif heterozigot. Dalam peristiwa meiosis gen sealel akan terpisah, masing-masing membentuk gamet. Baik pada bunga jantan maupun bunga betina terjadi dua macam gamet. Waktu terjadi penyerbukan sendiri (F1×F1) dan pada proses fertilisasi gamet-gamet yang mengandung gen itu akan melebur secara acak dan terdapat 4 macam peleburan atau perkawinan.
Untuk contoh mendel mengambil dari tanaman kapri. Masing-masing sifat yang dipelajari adalah: tinggi tanaman, warna bunga, bentuk biji, dan lain-lain yang bersifat dominan dan resesif. Mula-mula Mendel mengamati dan menganalisis data untuk setiap sifat, dikenal dengan istilah monohibrid. Selain itu Mendel juga mengamati data kombinasi antar sifat, dua sifat (dihibrid), tiga sifat (trihibrid) dan banyak sifat (polihibrid). Hasil percobaannya ditulis dalam makalah yang berjudul Experiment in Plant Hybridization.
Varietas-varietas yang disilangkan disebut tetua atau parental (P). Biji-biji hasil persilangan antar parental disebut biji filial-1 (F1). Ciri-ciri F1 dicatat dan bijinya ditanam kembali. Tanaman yang tumbuh dari bij F1 dibiarkan menyerbuk semdiri untuk menghasilkan biji generasi berikutnya (F2). Dalam percobaannya Mendel mngamati sampai generasi F7, dan juga melakukan persilangan antara F1 dengtan salah satu tetuanya (test cross).Hasil percobaan monohibrid menunjukkan bahwa pada seluruh tanaman F1 hanya ciri (sifat) dari alah satu tetua yang muncul. Pada generasi F2, semua ciri yang dipunyai oleh tetua (P) yang disilangkan muncul kembali. Ciri sifat tetua yang hilang pada F1 terjadi karena tertutup, kemudian disebut ciri resesif, dan yang menutupi disebut dominan. Dari seluruh percobaab monohibrid untuk 7 sifat yang diamati, pada F2 terdapat perbandingan yang mendekati 3:1 antara jumlah individu dengan ciri dominan:resesif.
Sebagai salah satu kesimpulan dari percobaan monohibridnya, Mendel menyatakan bahwa setiap sifat iorganisme ditentukan oleh faktor, yang kemudian disebut gen. Faktor tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam setiap tanaman terdapat dua faktor (sepasang) untuk masing-masing sifat, yang kemudian dikenal dengan istilah 2 alel; satu faktor berasal dari tetua jantan dan satu lagi berasal dari tetua betina. Dalam penggabungan tersebut setiap faktor tetap utuh dan selalu mempertahankan identitasnya. Pada saat pembentukkan gamet, setiap faktor dapat dipisah kembali secara bebas. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Hukum Mendel I, yaitu hukum segregasi. Perbandingan pada F2 untuk ciri dominan : resesif = 3 : 1, terjadi karena adanya proses penggabungan secara acak gamet-gamet betina dan jantan dari tanaman F1.
RATIO FENOTIP (F2) HIBRIDA NORMAL MENURUT MENDEL
Monohibrida 3: 1 (Hukum Dominasi penuh) n= 1, jumlah gamet = 2
Dihibrida 9: 3: 3: 1 n= 2, jumlah gamet = 4
Trihibrida 27: 9: 9: 9: 3: 3 : 3: 1 n= 3, jumlah gamet = 8
Polihibrida (3:1)n n= n, jumlah gamet = 2n

(n) = jenis sifat berbeda (hibridanya).
Intermediat 1 : 2 : 1 ——> sifat "SAMA DOMINAN"; percobaan pada bunga Antirrhinum majus.


Tujuan Praktikum :
 Mencari angka-angka perbandingan sesuai dengan ukum mendel I.
 Menemukan nisbah teoritis sama atau mendekati nisbah pengamatan.
 Memahami pengertian dominan, resesif, genotif, dan fenotif.





I. Bahan dan Metode Praktikum
Bahan dan Alat yang digunakan :
 Model gen (kancing genetik) 2 warna
 Dua buah stoples.

Cara kerja :
 Dengarkan arahan dari dosen pembimbing atau co-asst.
 Mengambil model gen merah dan putih, masing-masingg 30 pasang( 30 jantan & 30 betina)
 Menyisihkan 1 pasang model gen merah dan gen putih dalam keadaan berpasangan. Ini dimisalkan individu mera da individu putih.
 Membuka pasangan gen diatas (langkah 2), ini dimisalkan pemisahan gen pada pembentukan gamet, baik oleh individu merah maupun individu putih.
 Menggabingkan model gen jantan merah dan model gen betina putih dan sebaliknya. Ini menggambarkan hasil silangan atau F1, keturnan indivdu merah dan individu putih.
 Memisahkan kembali model gen merah dan model gen putih. Hal ini menggambarkan pemisahan gen pada pembentukan gamet F1.
 Memasukkan semua model gen jantan merah dan putih kedalam stoples jantan dan model gen betina merah dan putih kedalam stoples betina.
 Dengan tanpa melihat dan sambil mengaduk/mencampur gen-gen tersebut, mengambil secara acak dari masing-masing stoples, kemudian memasangkan.
 Melakukan pengambilan model gen secara terus menerus sampai habis dan mencatat setiap gen yang terambil kedalam table pencatatan.
 Bisa juga mengembalikan model gen yan terambil (langkah 8) kedalam stoples masing-masing untuk selanjutnya mendapat kesempatan terambil lagi. Melakukan pecobaan serupa untuk pengambilan 20 x, 40 x, dan 60 x.
 Jika masih terjadi kesalahan ulangi lagi pengambilan.

II. Hasil
Dari pelaksanaan dan setelah melakukan pengulangan pengambilan, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1.Pencatatan untuk pengambilan 20 X
No Pasangan Tabulasi ijiran Jumlah
1 Merah-merah IIIII I 6
2 Merah-putih IIIII IIII 9
3 Putih-putih IIIII 5

Tabel 2.pencatatan untuk pengambilan 40 X
No Pasangan Tabulasi ijiran jumlah
1 Merah-merah IIIII 10
2 Merah-putih IIIII IIIII IIIII IIII 19
3 Putih-putih IIIII IIIII I 11

Tabel 3.pencatatan untuk pengambilan 60X
No Pasangan Tabulasi ijiran Jumlah
1 Merah-merah IIIII IIIII II 12
2 Merah-putih IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII III 33
3 Putih-putih IIIII IIIII IIIII 15







Tabel 4. Perbandingan/ nisbah fenotif pengamatan/observasi (O) dan nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 20x.
Fenotif Pengamatan
(Observasi = O) Harapan
(Expected) Deviasi
(O-E)
Merah 15 ¾ x 20 = 15 0
Putih 5 ¼ x 20 = 5 0
Total 20 20 0



Tabel 5. Perbandingan/ nisbah fenotif pengamatan/observasi (O) dan nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 40x.
Fenotif Pengamatan
(Observasi = O) Harapan
(Expected) Deviasi
(O-E)
Merah 29 ¾ x 40 = 30 -1
Putih 11 ¼ x 40 = 10 1
Total 40 40 0






Tabel 6. Perbandingan/ nisbah fenotif pengamatan/observasi (O) dan nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 60x.
Fenotif Pengamatan
(Observasi = O) Harapan
(Expected) Deviasi
(O-E)
Merah 45 ¾ x 60 = 45 0
Putih 15 ¼ x 60 = 15 0
Total 60 60 0













IV. Pembahasan
Pada pelaksanaan praktikum acara II (hukum Mendel I),dalam Hukum Mendel I dinyatakan bahwa setiap sifat organisme ditentukan oleh faktor, yang kemudian disebut gen. Faktor tersebut kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam setiap tanaman terdapat dua faktor (sepasang) untuk masing-masing sifat, yang kemudian dikenal dengan istilah 2 alel; satu faktor berasal dari tetua jantan dan satu lagi berasal dari tetua betina. Dalam penggabungan tersebut setiap faktor tetap utuh dan selalu mempertahankan identitasnya. Pada saat pembentukkan gamet, setiap faktor dapat dipisah kembali secara bebas.
Dari pelaksanaan praktikum yang kami laksanakan, pada perlakuan : 20 X,yaitu pasangan Merah-merah diperoleh tabulasi ijiran sebanyak 6, sementara Merah-putih diperoleh tabulasi ijiran 9 pasangan dan Putih-putih diperoleh tabulasi ijiran sebanyak 5 pasangan. Untuk perlakuan pengambilan sebanyak 40 X diperoleh, pasangan merah-merah dengan tabulasi ijiran sebanyak 10 pasangan, pasangan merah-putih diperoleh sebanyak 19 pasangan dan putih-putih sebanyak 11 pasangan. Dan pada perlakuan perlakuan pengambilan 60 X diperoleh, pasangan Merah-merah sebanyak 12 pasangan, Merah-putih sebanyak 33 pasangan dan Putih-putih sebanyak 15 pasangan. Perlakuan yang kami lakukan itu sudah hampir mendekati perbandingan 1:2:1, sebagaimana bunyi hukum Mendel.
Adanya perbedaan deviasi( observasi - harapan ) pada perlakuan fenotip merah dan putih karena semakin banyak jumlah pengambilan yang dilakukan, akan semakin banyak peluang merah dan putih didapat. Hal itu dapat dilihat pada praktikum yang kami lakukan, pada pengambilan 20 X dan 60 X tidak ditemui deviasi sementara, pengambilan 40 ditemui deviasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah pengambilan maka akan semakin tinggi kemungkinan deviasi yang diperoleh.




V. Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum dapat diambil beberapa kesimpulan,yaitu :
 Dominan merupakan sifat yang muncul pada keturunan. GENOTIP adalah komposisi faktor keturunan (tidak tampak secara fisik).
FENOTIP adalah sifat yang tampak pada keturunan.
 Sifat dominan ditemukan pada fenotip Merah.
 Semakin banyak jumlah pengambilan maka akan semakin besar peluang deviasi yang diperoleh.
 Perbandingan pengambilan 20 X, 40 X, 60 X pada praktikum sudah mendekati bunyi hukum Mendel, yaitu : 1:2:1.
 Gen merah bersifat dominant terhadap gen putih, sehingga gen putih tertutupi oleh gen merah karena gen putih bersifat resesif.














Pertanyaan:
1. Berapa macam pasangan genotif yang anda peroleh?
Jawaban:
Ada tiga macam, yaitu merah-merah (MM), merah-putih (Mm), dan putih-putih (mm)
2. Berapa perbandingannya?
Jawaban:
1 : 2 : 1
Yaitu 1 MM : 2 Mm : 1 mm
3. Jika model gen merah dominan, berapa perbandingan fenotif yang anda peroleh?
Jawaban:
3 dominan (MM atau Mm) : 1 resesif (mm) atau
3 merah : 1 putih
4. Apa yang dapat Anda simpulkan dari percobaan Model ini?
Jawaban:
Percobaan ini menghasilkan genotif yaitu merah-merah, merah-putih dan putih-putih. Dan perbandingan fenotifnya yaitu MM, Mm, mm (1:2:1) untuk F2. sedangkan pada F1 menghasilkan semuanya (100%) merah. Dapat disimpulkan bahwa gen merah dominant, dan gen putih resesif. Perbandingan fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1. Karena gen merah dominant.





Daftar pustaka
http://www.google.co.id/search?hl=id&q=hukum+mendel&start=0&sa=N
Crowder, L. V. 1997. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Suryati, Dotti. 2010. Penuntun Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi Universitas Bengkulu.
http://www.google.co.id/search?hl=id&q=hukum+mendel&start=20&sa=N
http://www.google.co.id/search?hl=id&q=hukum+mendel&start=0&sa=N
Welsh, James R.. 1991. Dasar-Dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Erlangga.
Yatim, Wildan. 1996. Genetika. Bandung: TARSITO.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar